Selamat datang di Kawasan Penyair Kalimantan Selatan. Terima kasih anda telah mengapresiasi" Album Puisi Narasi Musafir Gila "

Sabtu, 24 November 2007

edisi 14

Darah


Adalah langit darah berdarah

Tak habishabis jadi laut berabadabad telah

tak berpaus di atasnya rajah perahu Nuhmu

tak singgahsinggah pada dermaga darahku

Hu Allah darahku hanyut dalam darahmu

kutubku tenggelam dalam kutubmu

menghempas napas darahku membatubara

di kunci rahasia Alifmu Alif Alif

darah Adamku yang terdampar di bumi

yang rapuh berabadabad mencari darah hawaku

yang rapuh tersesat di belantaramu meraung

darah laparku mencakarcakar mencari darahku

beri aku barang setetes Hu Allah

getar alir napas menyeru darahmu

mengalir darah mataku mengalir darah musafir

di sajadahmu

mengalir menuju rumahmu

darah hidupku Hu Allah

darah matiku Hu Allah

darah hidupmatiku Hu Allah

darah raungku Hu Allah

darah cakarku Hu Allah

darah laparku Hu Allah

darah hausku Hu Allah

darah ngiluku Hu Allah

darah rinduku Hu Allah


manakala darah tak keringkering

mendustakan firmanmu dan tak hentihenti

berpaling pada jalanmu

malam tak lagi malam siang tak lagi siang

bulan bintang matahari kehilangan terang

apatah lagi yang mampu meneteskan

darah kehidupan Hu Allah

semesta bergoncang Hu Allah

arasy pun bergoncang Hu Allah

darahku aujubillah

darahku astagfirullah

darahku subhanallah

Allah


Banjarbaru, 2004


Orang Asing


Menyaksikan percintaan seekor baboon

di Suchumi, Kaukasus, orangorang berjubel

tibatiba di antaranya ada yang berseru padaku :

Itu Pierre Brassau si pelukis simpanse

aku telah melihatnya dengan jelas di Goeteborg

tak salah lagi, dia orangnya

Aku malu pada diriku sendiri lalu diamdiam pergi

Dan ketika di tengah riuh tepuktangan Hongaria,

aku membaur di antara kaum zanggi

yang asyik dengan orkestranya

orangorang berjubel

tibatiba di antaranya ada yang berseru padaku :

Itu Pal Ract kelahiran Nograd

Orangorang kagum memandangku

Dengan rasa kecut kutinggalkan warung kopi itu bergegas

Dan ketika di tengah lapangan, dengan rasa ngilu

menyaksikan Adolf Hitler membantai serdadunya sendiri

yang mengunyah musik karena lapar

dan Khomaini seorang sekte itu geram :

Musik tak ubahnya candu, kemudian

mengganyang semua rekaman di Iran

sedang Plato rupanya sejalan pikirannya


Di suatu negeri

orangorang mengerumuni aku

seseorang berkata : Aku tak mengenalnya

dia tak bernapas sedenyut pun

seseorang berkata : Dia hanyut dalam mimpimimpinya

lihat matanya berkacakaca

seseorang berkata : Dia gairah menjilati anganangannya

lihat mulutnya tersenyum

seseorang berkata : Dia sedang berduka

lihat jidatnya penuh luka

seseorang berkata : Dia mabuk rindu

lihat wajahnya ranum

seseorang berkata : Sungguh malang dia korban dekadensi

seseorang berkata : Hai sepertinya dia kaum metafisis

di antara orangorang berkerumun : Apakah dia seorang

penghuni puing benteng Vredeburg tubuhnya terbujur

kaku

menyedihkan sekali

di antara orangorang berkerumun : Dia mati

lalu menyanyikan sebuah requiem

bagai ruh asap

menyelimuti negeriku

yang terkubur jauh dalam diriku


Banjarbaru,2004




0 komentar: